About me

Rabu, 28 November 2012

Al Iffah Voice


Membingkai sebuah kenangan , menyimpannya dalam sebuah figura biru yang cantik seperti memasukkan aseton pekat ke dalam botol Schott dan menutupnya rapat-rapat karena tidak ingin senyawa mahal tersebut volatil begitu saja. Beginilah, bak epik diri di kosan tercinta.

Syahdan.. di tahun 2009 beberapa akhwat yang memiliki bakat terpendam, atau yang merasa memiliki suara enak didengar di telinganya sendiri, atau yang tanpa disadari saat menulis saat berjalan saat duduk selalu menggumamkan sebuah nada, atau yang menyimpan segudang nasyid di hp dan laptopnya, atau yang bercita-cita ingin seperti Siti Nurhaliza (huks!) berkumpul, bertekad ingin melakukan syiar di dalam syair.

Di awal tahun 2009 (bulannya lupa, apalagi tanggalnya), akhwat-akhwat yang panggil saja YN, FNA, IM, PR, SS dan TR (formasi lengkapnya lupa) coba-coba ikut ajang bergengsi di Fakultas MIPA. Gadis-gadis imut yang baru tingkat dua di kampus IPB itu (pemudi 45) nekad mendaftarkan diri di acara tersebut. Saat itu lagu yang dibawakan adalah nasyid yang dipopulerkan oleh Snada “kasih putih”. Ekhem..

Selasa, 13 November 2012

wanita perkasa

Segenap syukur kuhaturkan padaMu
Hari ini aku pulang. Mencium aroma kesegaran kota Serang
***********************************
Jauh sebelum kepulangan ini, ku atur jadwalku untuk di rumah. Ku atur mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Ku atur untuk menggantikan tugas ibu di rumah. Ku atur sebagai pengganti jam-jamku yang jauh dari ibu. Ku atur agar ibu bisa beristirahat dengan kehadiranku. Ku atur agar ibu tidak terlalu lelah.

Fajar itu, aku ingin membuktikan waktu-waktu yang sudah kuatur jauh sebelum kepulangan ini.
Ibu, aku malu..

Rabu, 24 Oktober 2012

dialek cinta #2


Seorang pujangga cinta pernah berkata: seni mencintai adalah memberi, bukan menerima, ia adalah berbagi, tidak egois. Sebuah pengejawantahan di alam jiwa untuk menyempurnakan entitas murni dari sebuah definisi cinta. Cinta menjalin jiwa-jiwa tulus dalam kelembutan yang selalu mampu menumbuhkan keterbukaan. Ia akan dengan takzim menyebutkan kesalahan secara objektivitas. Energi cinta selalu memicu untuk saling membersamai lalu bergerak dalam ritme yang seirama. Sejatinya, hubungan yang dilandasi atas dasar cinta, akan bersifat mutualisme. Ia akan saling memberi, menjaga, dan mempertahankan apa saja yang dicintainya.

Senin, 03 September 2012

selaksa rasa


Matahari bersinar mematangkan waktu. Membunuh kesunyian yang tak pernah bernapas lega. Ada sela asa yang tersisa. Timbul di hati. Mengeraskannya, kadang meluluhkannya. Ingin berteriak. Percuma. Ingin bertindak. Tak bisa.
Aaaarrrggghh… berkali-kali berteriak Aaaarrgggghhh… sambil mengepalkan tangan. Geram. Menghembuskan napas sepanjang-panjangnya. Aaarrrggghh.. lagi-lagi ber-Arrrggghh… Tentu saja hanya di dalam hati. Kadang-kadang melalui ekspresi. Tak jarang berintonasi.
Seandainya bisa berteriak. Berceramah seperti seorang khatib yang berkhutbah. Dengan semangat membara. Khusyuk dan didengarkan walaupun tetap saja ada yang mengantuk. Atau berpidato seperti Presiden. Tak boleh ada yang mengantuk apalagi tertidur, walalupun ada saja yang nakal sesekali buka sms. Atau seperti seorang Guru. Medidik dengan kasih sayang walaupun selalu saja ada yang membandel di kelas. Atau seperti Resepsionis. Atau seperti Reporter. Seperti Tour Guide. Seperti Murobbi. Seperti Sales. Seperti Pengacara. Atau apapun. Seperti mereka yang memberi tahu suatu kebaikan. Tapi, tetap saja. Sulit.
Bukan sulit. Hanya saja masalahnya di aku. Aku yang kadang hanya bisa ber-Aaarrgghhh… kesal. Mengomel. Menceracau. Curhat. Nulis di blog. Update status.  Menangis.  Atau hanya memendam dalam hati. Lagi-lagi masalahnya di aku. Hanya bisa diam. Melihat. Mendengar. Sulit bertindak. Aaaarrgghh… aku tahu masalahnya di aku.

Selasa, 17 Juli 2012

kecil-dewasa


Anak kecil selalu punya cara tersendiri dalam menghadapi dunia dan permasalahannya. Kadang aku pernah merasa ingin kembali lagi ke masa kecil dengan kepolosan yang teramat sangat dalam bertanya dan menjawab segala permasalahan yang ada. Kadang menjadi anak kecil lebih terasa menyenangkan dalam berekspresi, bersikap, dan berpikir. Selalu ada pemakluman yang diberikan: “ah, namanya juga anak kecil. Biarin aja”. Lihat saja, saat senang mereka tertawa, saat sedih mereka menangis. Mereka adalah mereka dengan apa yang mereka rasakan.

Kadang orang dewasa dengan permasalahan yang lebih rumit atau memang dibuat rumit terlalu rumit sendiri dalam menghadapi permasalahan yang memang sudah rumit (?). Mereka harus tertawa saat batin terasa sakit. Mereka harus menyembunyikan kesedihan di tengah keramaian. Atau bisa jadi mereka harus bisa berekspresi sedih di tengah gejolak hati yang dilanda kesukacitaan. Begitupun dengan perasaan marah dan benci, harus bisa memilah kapan sebaiknya perasaan itu dimunculkan dan karena sebab apa. Tidak bisa sembarangan, karena tidak ada pemakluman untuk orang dewasa. Yah, begitulah orang dewasa. Kadang harus bisa menyembunyikan perasaan yang dirasakan.